11 Januari 2012

Pengendalian Chikunguya




Pengendalian Chikunguya

Chikungunya terjadi pada 3 Kelurahan di Kota Depok. Di Kelurahan Tanah Baru Chikungunya terjadi sejak November 2011 sampai dengan minggu pertama Tahun 2012. Penderita sebagian besar perempuan (56,5%) dan diderita paling banyak pada kelompok umur di atas 31-40 tahun (42 kasus); kelompok umur 10-20 tahun (37 kasus) dan 21-30 tahun (37 kasus). Kondisi lingkungan rumah dan di dalam rumah berpotensi menjadi penular chikungunya, dimana angka bebas jentik (ABJ) hanya sekitar 50%.


Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama mengenai perkembangan Chikungunya di Kota Depok.

Menurut Prof dr Tjandra upaya pengendalian Chikungunya pada dasarnya sama dengan pengendalian DBD, yaitu  mengobati penderita dengan memberi obat penurun panas dan obat nyeri sendi; Istirahat; penyemprotan wilayah untuk membunuh nyamuk yang terinfeksi; membersihkan lingkungan dari jentik dan genangan air melalui PSN secara teratur seminggu sekali dan lebih sering ketika setelah hujan turun.


“Masyarakat perlu mewaspadai gejala-gejala Chikungunya seperti demam mendadak, nyeri sendi di kaki, lutut, pinggul, pinggang sampai terasa seperti lumpuh hingga tidak dapat berjalan dan sakit bila bergerak. Nyeri sendi juga terasa di tangan, jari, lengan, bahu dll. Selain itu timbul bintik-bintik kemerahan hampir mirip DBD. Sakit sendi akan dirasakan selama seminggu. Lama masa inkubasi 7 – 10 hari,” terang Prof. Dr. Tjandra Yoga.

sumber : Depkes.go.id

ANTISIPASI PENYAKIT DI MUSIM HUJAN




ANTISIPASI PENYAKIT DI MUSIM HUJAN


Indonesia saat ini sudah memasuki musim penghujan. Curah hujan tertinggi diperkirakan terjadi pada bulan Januari sampai awal Februari 2012. Datangnya musim hujan merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit. 

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama mengenai antisipasi penyakit yang biasa muncul pada musim hujan.

Menurut Prof. Tjandra Yoga, beberapa penyakit yang perlu diwaspadai selama musim penghujan adalah penyakit akibat virus seperti influenza, diare;  penyakit akibat bakteri dan parasit, terutama pada daerah yang airnya meluap sehingga bakteri dan parasit dari septic tank dan kotoran hewan terangkat dan hanyut kemudian mengkontaminasi air, bahan pangan, atau menginfeksi langsung manusia, seperti  diare, disentri, kecacingan, leptospirosis; penyakit akibat jamur terutama akibat kelembaban pada pakaian; penyakit tidak menular seperti asma, rhinitis, perburukan penyakit kronik; dan penyakit demam berdarah, karena meningkatnya tempat perindukan nyamuk.

“Pada peralihan musim penghujan ke musim kemarau perlu diwaspadai penyakit demam berdarah. Pada masa ini, populasi nyamuk demam berdarah meningkat karena banyaknya tempat perindukan”, terang Prof. Tjandra.

Sebagai antisipasi dengan datangnya musim penghujan, Kementerian Kesehatan melakukan upaya yaitu meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terutama dalam hal penggunaan air bersih; cuci tangan dengan air bersih dan sabun; penggunaan jamban sehat, pemberantasan jentik di rumah, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar; konsumsi buah dan sayur setiap hari; beraktivitas fisik setiap hari; membuang sampah pada tempatnya; tidak meludah sembarangan; serta penggunaan alat pelindung diri, misalnya memakai sepatu boot saat terjadi banjir untuk menghindari infeksi leptospira dan memakai lotion anti nyamuk di wilayah rawan/endemis demam berdarah, tambah Prof. Tjandra.

sumber : Depkes.go.id

22 Desember 2011

Menjadi Ibu dan Pasien yang Pintar




Menjadi Ibu dan Pasien yang Pintar 
By Vicka Farah Diba

Selamat hari Ibu ^_^ buat ibu ibu hebat di seluruh Indonesia


Peran ibu memang tiada duanya dan tidak bisa tergantikan oleh siapapun terutama bagi si buah hati....Apalagi bila si buah hati sedang sakit, karena rasa sayangnya ibu menjadi sangat panik dan kuatir....


Well, tentunya tidak harus selalu seperti itu ya bu...Bagaimanapun ada cara tertentu supaya bila si kecil sedang sakit, ibu tetap bisa menjadi seorang ibu dan pasien yang pintar ^_^


Bagaimana caranya mejadi ibu dan pasien yang pintar? 
Mari kita coba simak beberapa tips berikut : 


1. Selalu siap sedia
Sedia payung sebelum hujan. Pepatah ini sangat benar, sehingga sebelum anak sakit, ibu sebaiknya menyediakan beberapa alat kesehatan penting di rumah seperti : termometer, kassa dan tongue spatel. Sediakan juga obat obatan yang sering dipakai seperti : penurun panas, anti kejang, oralit dan betadine. Kemudian jangan lupa catat nomor telepon penting RS atau Ambulance yang dapat dihubungi dengan segera. 
Bekali diri dengan ilmu mengenai penggunaan alat dan obat kesehatan tersebut serta bagaimana menangani kegawatan di rumah seperti : kejang demam, anak tersedak, diare dan demam. 
Ibu dapat mempelajari hal tersebut dari buku atau situs kesehatan anak seperti Dokter Anakku www.dokteranakku.net Sehingga ibu dapat memberikan pertolongan pertama pada anak di rumah sebelum dibawa ke dokter. 


2. Mencegah lebih baik daripada mengobati 
Sebagian besar penyakit yang membuat orang tua membawa anak ke dokter sebenarnya disebabkan oleh hal hal kecil yang dapat dicegah dengan membiasakan hidup sehat dan disiplin. Contohnya : 


  • Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan dapat mencegah kejadian diare dan konstipasi pada bayi.
  • Kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan air dapat mencegah diare pada bayi dan anak.  
  • Tidak merokok di dekat anak, dapat mencegah penyakit infeksi saluran napas atas (batuk pilek), alergi pada anak dan bahkan mencegah terjadinya infeksi paru berat seperti pneumonia. 
  • Memakai masker bila orang tua sedang sakit, dapat mencegah penularan penyakit infeksi saluran napas atas pada bayi dan anak 



3. Terbuka dan komunikatif 
Bila akhirnya si kecil harus dibawa ke dokter, maka bersikaplah terbuka dan komunikatif mengenai gejala dan riwayat penyakit anak. Tidak perlu malu menceritakan riwayat penyakit keluarga yang berhubungan dengan sakit anak, seperti riwayat adanya keluarga yang batuk pilek, riwayat adanya alergi, menderita sakit TBC atau kejang di keluarga. Karena hal ini penting untuk menambah informasi penyakit anak Anda. Bertanyalah dan sampaikan pendapat serta uneg uneg Anda dengan baik agar komunikasi dapat berjalan dua arah antara dokter dan pasien dengan lancar


4. Tidak semua penyakit harus diberi obat
Sebagian besar penyakit bisa sembuh sendiri, seperti penyakit batuk pilek atau diare yang disebabkan oleh virus sebenarnya bisa sembuh sendiri tanpa obat. Anda tidak perlu memaksa dokter untuk memberikan obat atau bahkan antibiotik untuk menghentikan gejala penyakit tersebut.


  • Pastikan memberikan cairan yang cukup setiap anak muntah dan diare serta kenali adanya gejala gejala kegawatan seperti penurunan kesadaran, mata cowong, bibir kering, berkurangnya kencing sehingga anda tidak terlambat membawa anak anda yang diare ke petugas kesehatan terdekat. 
  • Untuk batuk pilek, selain lebih sering minum untuk membantu mengencerkan dahak, Anda bisa mengenali tanda kegawatan seperti napas cepat, napas cuping hidung dan adanya tarikan dinding dada yang mengharuskan anda segera membawa anak ke petugas kesehatan terdekat 



5. Percaya kunci kesembuhan
99% kunci keberhasilan pengobatan adalah rasa percaya Anda terhadap cara pengobatan tersebut, bila Anda percaya terhadap suatu pengobatan, tentunya Anda akan patuh untuk melakukan semua petunjuk pengobatannya sehingga pada akhirnya membawa Anda kepada kesembuhan. Rasa percaya juga akan membawa keoptimisan yang sangat penting dalam membangkitkan sistem kekebalan tubuh dan membawa kesembuhan. 
Terbukti bahwa sebagian besar orang tua yang tidak kooperatif, tidak percaya dan tidak patuh pada instruksi dokter justru membawa dampak pada lamanya kesembuhan anak mereka. Sehingga sebaiknya bila ada uneg uneg yang terpendam, komunikasikan dengan baik pada dokter Anda. 
Mencari "second opinion" adalah hak Anda, tetapi tidak akan ada gunanya bila tidak Anda komunikasikan kembali pada dokter Anda, apalagi bila hasil "second opinion" tersebut hanya semakin menambah kebingungan dan rasa tidak percaya pada pengobatan yang sedang dijalani. Dalam hal ini yang dirugikan tentunya adalah kesehatan anak Anda. 


Sehingga menjadi ibu dan pasien yang pintar tentunya adalah suatu keharusan ^_^ 


Salam DokterAnakku 
   

15 Desember 2011

Anak kena Gejala Tifus?? (TES WIDAL YANG SERING MENGACAUKAN)






Terinspirasi oleh beberapa rujukan yang datang dengan label diagnosis "tifus", maka sepulang praktek saya berusaha mencari bahan bacaan yang mudah dipahami, tapi tetap ilmiah seputar diagnosis tifus pada anak terutama yang ditegakkan dengan Tes Widal. Di Indonesia pemeriksaan widal sebagai pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis tifus paling sering digunakan. Meskipun ternyata pemeriksaan ini sering menimbulkan kerancuan dan mengakibatkan kesalahan diagnosis. Akhirnya saya temukan sebuah artikel yang cukup easy reading and still scientific applicable dari Koran Indonesia Sehat : Cermati diagnosis tifus yang tidak benar, Tes Widal positif belum tentu tifus (dr Widodo Judarwanto SpA). 


Just sharing aja buat orang tua dan teman sejawat mengenai bagaimana sebenarnya diagnosis tifus dengan tes widal. Pada intinya akurasi pemeriksaan widal tidak tinggi dan sering mengakibatkan bias dengan penyakit lainnya. Dalam sebuah penelitian didapatkan infeksi virus yang sering menjadi penyebab demam pada anak dan orang dewasa ternyata juga terjadi peningkatan hasil widal yang tinggi pada minggu pertama. Dalam penegakaan diagnosis demam tifus diperlukan data yang lengkap dan jelas meliputi riwayat perjalanan penyakit, tanda dan gejala klinis serta hasilpemeriksaan laboratorium. Bukan sekedar mengandalkan hasil laboratorium tanpa memperhatikan kondisi klinis penderita. Mengingat seringnya kerancuan yang diakibatkan oleh pemeriksaan widal, maka sebaiknya pemeriksan widal dilakukan pada penderita saat minggu ke dua demam bukan saat minggu pertama. 


                                             TES WIDAL YANG SERING MENGACAUKAN


Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.9,13


Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada anak-anak sehat.


Dalam penelitian kecil yang dilakukan terhadap 29 anak didapatkan hasil widal yang tinggi pada hari ke tiga hingga ke lima antara 1/320 hingga 1/1280. Setelah dilakukan follow up dalam waktu demam pada minggu ke dua hasil widal tersebut menurun bahkan sebagian kasus menjadi negatif. Padahal seharusnya pada penderita tifus nilai widal tersebut seharusnya semakin meningkat pada minggu ke dua. Dalam follow up pada minggu ke dua ternyata hasil nilai widal menghilang atau jauh menurun. Padahal seharusnya akan pada penderita tifus seharusnya malahan semakin meningkat. Karakteristik penderita adalah usia 8 bulan hingga 5 tahun, dengan rata-rata usia 2,6 tahun. Jenis kelamin laki-laki 41% dan perempuan 59%. Semua penderita menunjukkan hasil kultur darah gall degatif dan semua penderita tidak diberikan antibiotika dan mengalami self limiting disease atau penyembuhan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab infeksi pada kasus tersebut adalah infeksi virus.


Yang menarik dalam kasus tersebut 10 penderita (34%) sebelumnya mengalami diagnosis penyakit tifus sebanyak 2-4 kali dalam setahun. Sebagian besar penderita atau sekitar 89% pada kelompok ini adalah kelompok anak yang sering mengalami infeksi berulang saluran napas. Dan sebagian besar lainnya atau sekitar 86% adalah penderita alergi.
Penelitian lain yang dilakukan penulis pada 44 kasus penderita demam beradarah, didapatkan 12 (27%) anak didapatkan hasil widal O berkisar antara 240-360 dan 15 (34%) anak didapatkan hasil widal O 1/120. Semua penderita tersebut menunjukkan hasil kultar darah gall negatif dan tidak diberikan terapi antibiotika membaik.


Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada infeksi virus pada penderita tertentu terutama penderita alergi dapat meningkatkan nilai Widal. Banyak penderita alergi pada anak yang mengalami peningkatan hasil widal dalam saat mengalami infeksi virus tampak menarik untuk dilakukan penelitian lebih jauh. Diduga mekanisme hipersensitif atau proses auto imun yang sering terganggu pada penderita alergi dapat ikut meningkatkan hasil widal. Dengan adanya penemuan awal tersebut tampaknya sangat berlawanan dengan pendapat yang banyak dianut sekarang bahwa peningkatan hasil widal terjadi karena Indonesia merupakan daerah endemis tifus. Fenomena ini perlu dilakukan penelitian lebih jauh khusus dalam hal biomolekuler dan imunopatofisiologi.


Banyak akibat atau konsekuensi nyang ditimbulkan bila terjadi ”overdiagnosis tifus”. Pertama penderita harus mengkonsumsi antibiotika jangka panjang padahal infeksi yang terjadi adalah infeksi virus. Konsekuensi lain yang diterima adalah penderita seringkali harus dilakukan rawat inap di rumah sakit. Hal lain yang terjadi seringkali penderita seperti ini mengalami diagnosis tifus berulang kali. Semua kondisi tersebut diatas akhirnya berakibat peningkatan biaya berobat yang sangat besar padahal seharusnya tidak terjadi. Belum lagi akbat efek samping pemberian obat antibiotika jangka panjang yang seharusnya tidak diberikan.

PERBEDAAN DEMAM TIFUS DAN DEMAM KARENA INFEKSI VIRUS
DEMAM TIFUS SERINGKALI BILA TIDAK CERMAT SULIT DIBEDAKAN DENGAN DEMAM KARENA INFEKSI VIRUS, TETAPI KALAU MELIHAT POLA DEMAMNYA RELATIF MUDAH DIBEDAKAN
DEMAM KARENA VIRUS (VIRUS TERTENTU TERMASUK DENGUE) : 1-2 HARI AWAL MENDADAK SANGAT TINGGI, KEMUDIAN PADA HARI KETIGA TURUN, HARI KE 4-5 NAIK TAPI TIDAK SETINGGI HARI 1-2 (POLA PENURUNAN ANAK TANGGA , DBD POLA PELANA KUDA)
DEMAM KARENA TIFUS : DEMAM AWALNYA TIDAK TERLALU TINGGI, TETAPI HARI BERIKUTNYA SEMAKIN TINGGI DAN SEMAKIN TINGGI (POLA KENAIKKAN ANAK TANGGA)

SIGN IMMITATOR :


gejala tifus juga mirip beberapa penyakit lainnya, beberapa gejala yang sering m,engecoh sehingga membuat overdiagnosis tifus sering terjadi. BEBERAPA GEJALA DAN TANDA UMUM YANG BUKAN HANYA ADA PENYAKIT TIFUS :


LIDAH KOTOR, pada anak dengan sensitif saluran cerna ATAU GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA (PENDERITA ALERGI/GER yang sebelumnya dalam keadaan sehatpun juga sering mengalami gangguan lidah putih dan kotor) ternyata bila demam juga menimbulkan gangguan warna putih pada lidah, hanya saja pada tifus lidah putih sangat tebal dengan tepi kemerahan


GANGGUAN PENCERNAAN :
NYERI PERUT, MUNTAH, DIARE, SULIT BAB. Pada anak dengan sebelumnya punya riwayat sensitif saluran cerna atau gangguan fungsi saluran cerna (alergi, GER, nyeri perut berulang, konstipasi berulang dll) Ternyata pada saat demam gangguan saluran cerna ini juga seringkali timbul
DEMAM MALAM HARI, pada anak tertentu ternyata juga mempunyai pola demam terjadi pada malam hari bila terkena infeksi. Hal ini sering terjadi pada penderita alergi. Mungkin karena pengaruh hormon sirkadial, hal ini juga yang menjelkaskan kenapa gejala alergi lebih berat pada malam hari
KONDISI DAN KEADAAN YANG HARUS DIWASPADAI PADA PENDERITA YANG SERING MENGALAMI ”OVER DIAGNOSIS TIFUS”

 Terdapat beberapa kondisi dan keadaan yang harus diwaspadai pada penderita penderita yang telah divonis tifus yang dapat berakibat ”over diagnosis tifus”. Dalam penelitian tersebut di atas terdapat beberapa karakteristik penderita yang sering mengalami ”overdiagnosis tifus”, diantaranya adalah :


Hasil pemeriksaan widal yang sangat tinggi pada hari ke 3-5 saat demam.
Dalam lingkungan satu rumah terdapat penderita demam tinggi dalam waktu yang hampir bersamaan (dalam waktu kurang dari 3-5 hari).
Penderita divonis ”gejala tifus” atau ”tifus ringan”
Demam disertai gejala batuk dan pilek pada awal penyakit
Penderita yang sering mengalami infeksi berulang (sering demam, batuk dan pilek)
Penderita alergi (batuk lama, pilek lama, sinusitis, asma) yang disertai GER (gastrooesephageal refluks) atau sering muntah.
Penderita tifus berulang atau penderita yang divonis tifus lebih dari sekali
Peningkatan nilai widal H, (widal H bukan merupakan petanda infeksi tifus)
Penderita demam berdarah
Penderita berusia kurang dari 2 tahun

Bila penderita mengalami hal tersebut maka sebaiknya harus cermat dalam menerima diagnosis tifus. Penyakit demam yang disebabkan karena infeksi virus disertai kondisi tersebut di atas sering mengalami terjadi peningkatan nilai widal, padahal tidak mengalami infeksi tifus. Diagnosis tifus ditegakkan bukan hanya berdasarkan hasil laboratorium.

BAGAIMANA MENYIKAPINYA


Mengingat akurasi pemeriksaan widal tidak tinggi dan sering mengakibatkan bias dengan penyakit lainnya maka masyarakat dan klinisi harus cermat dalam menyikapinya. Dalam penegakaan diagnosis demam tifus diperlukan data yang lengkap dan jelas meliputi riwayat perjalanan penyakit, tanda dan gejala klinis serta hasilmpemeriksaan laboratorium. Selanjutnya untuk memastikan diagnosis kerja diperlukan interpretasi klinis yang cermat dan mendalam dianatara ketiga faktor tersebut. Bukan sekedar mengandalkan hasil laboratorium tanpa memperhatikan kondisi klinis penderita.
Mengingat seringnya kerancuan yang diakibatkan oleh pemeriksaan widal, maka sebaiknya pemeriksan widal dilakukan pada penderita saat minggu ke dua demam bukan saat minggu pertama. Penting harus diketahui bahwa tinggi rendahnya nilai widal bukan merupakan ganbaran berat ringannya penyakit tifus.
Dokter sebagai faktor yang paling berpengaruh dalam masalah “overdiagnosis” ini sebaiknya harus lebih mawas diri. Berbagai tindakan medis yang dilakukan harus berdasarkan kemampuan profesional khususnya dalam menginterpretasi hasil laboratorium. Kepentingan kesehatan penderita harus diutamakan di atas segalanya. Tindakan medis dilakukan bukan karena pertimbangan kepentingan lainnya. Pendidikan dokter berkelanjutan dan komunikasi dengan pakar tampaknya merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan profesionalitas dokter khususnya dalam mengurangi kesenjangan pemahaman klinis yang sering terjadi.
Orangtua penderita sebagai penerima layanan medis berhak mengetahui informasi penyakit penderita secara lengkap dan jelas. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam masalah ini dapat mengurangi kejadian ”overdiagnosis tifus yang masih banyak terjadi. Bila dalam keadaan seperti di atas penderita masih divonis demam tifus perlu mendiskusikan dengan baik dan menanyakan lebih jauh terhadap dokter yang merawat.
Bila meragukan dapat dilakukan pemeriksaan widal seminggu kemudian, bila terjadi peningkatan nilai widal sebanyak 4 kali menunjukkan konfirmasi diagnosis. Bila menurun, tetap atau peningkatan tidak terlalu tinggi dibandingkan nilai widal sebelumnya maka diagnosis tifus patut diragukan. Kalau perlu diusulkan untuk melakukan pemeriksaan kultur darah gall untuk memastikan diagnosis tifus. Bila masih meragukan terutama penderita yang berulangkali divonis tifus sebaiknya melakukan “second opinion” atau pendapat kedua dengan dokter lainnya.

CERMATI, DIAGNOSIS TIFUS YANG TIDAK BENAR, WIDAL POSITIF BELUM TENTU TIFUS.


CIRI KHAS YANG DAPAT DIBEDAKAN ADALAH KARAKTERISTIK PERJALAN DEMAMNYA:


DEMAM BERDARAH : DEMAM MENDADAK TINGGI HARI I-II, SAAT HARI KE III TURUN ATAU HARI KE 4-5 NAIK TAPI TIDAK TERLALU TINGGI
DEMAM TIFUS :  PADA HARI I-II TIDAK TINGGI TETAPI HARI KE 3 – 5 SEMAKIN TINGGI

sharing from Koran Indonesia Sehat

9 Desember 2011

Brain Development



Brain Development

Kesehatan otak merupakan modal dasar utama untuk beraktivitas secara produktif dan berkualitas sesuai kemampuan. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), tidak terlepas dari peran kesehatan otak. Melalui pengelolaan kesehatan otak yang terintegrasi akan menghasilkan SDM yang cerdas, memiliki kompetensi, kemampuan, keterampilan, serta daya saing tinggi. 


“Brain Development adalah salah satu model pendekatan pengembangan pemberdayaan manusia berbasis otak untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas SDM”, ujar Sesjen. dr. Ratna Rosita, MPHM


Sesjen menyebutkan, program Brain Development dilakukan melalui tahapan Brain Screening, Brain Stimulation dan Brain Restoration. Brain Screening, adalah upaya penilaian potensi kecerdasan pada orang normal maupun sakit, meliputi: Penilaian potensi kecerdasan pada anak sampai lanjut usia; Penilaian potensi kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence) pada anak, misalnya kecerdasan bahasa, kecerdasan matematika, ataupun kecerdasan lainnya; dan Penilaian kecerdasan kompeten pada dewasa/usia produktif


Brain stimulation, adalah upaya peningkatan kesehatan otak melalui pemberian rangsangan. Tujuannya mengoptimalkan potensi kecerdasan, meliputi: Stimulasi pada janin dilakukan melalui brain booster, yaitu pemberian stimulasi dan nutrisi pengungkit otak untuk meningkatkan perkembangan otak janin melalui ibu hamil; Peningkatan kemampuan komunikasi anak dan remaja melalui komunikasi otak, yang merupakan salah satu model pendekatan komunikasi yang sesuai dengan proses kerja otak; Brain learning pada lanjut usia untuk mengoptimalkan fungsi otak pada lansia melalui senam vitalisasi otak dan mendongeng; dan Brain exercise pada lanjut usia yang mengalami satu atau lebih gangguan proses kognitif dengan activity daily living yang masih baik.


Brain Restoration, adalah upaya penanggulangan kerusakan otak melalui rangsangan potensi kecerdasan yang masih dimiliki untuk memaksimalkan potensi kecerdasan, meliputi: Brain Restoration pada anak, misalnya pada anak dengan gizi buruk, penyandang epilepsi; Brain Restoration pada remaja dengan masalah ketergantungan obat (NAPZA), adiksi pornografi; Brain Restoration pada lanjut usia yang mempunyai resiko maupun yang telah mengalami gangguan, misalnya pada lansia dengan gangguan degeneratif, gangguan vaskuler, penyakit metabolik, ataupun gangguan pasca stroke.


Sarana pelayanan kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas agar mengembangkan model pelayanan spesifik dan membangun sistem rujukan. Profesi terkait dan akademisi agar menyusun standar pelayanan dan melakukan kajian terhadap pelayanan yang sudah dilakukan. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) supaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam menunjang program pemerintah sehingga diharapkan dapat memfasilitasi pengembangan berbagai upaya kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas bangsa Indonesia.

sumber depkes.go.id

4 Desember 2011

Tips : Agar Kepala Bayi tidak Peyang




Tips : Agar Kepala Bayi tidak Peyang 

Perubahan bentuk kepala bayi, dapat berkembang dalam beberapa bulan kehidupan bayi. Hal ini dapat disebabkan oleh posisi tidur yang salah pada bayi. Walaupun seiring masa pertumbuhan bentuk kepala buah hati pasti akan mengalami perubahan, tapi kebiasaan tidur pada satu posisi saja akan berakibat buruk pada bentuk kepala bayi kita.


Kondisi tulang tengkorak bayi yang belum kokoh atau rapuh, membuat kebiasaan tidur yang salah pada anak menjadi penyebab mengapa bentuk kepala bayi ada yang tidak sempurna alias peyang. Kondisi ini baru bisa disadari jika kita melihat kepala buah hati kita dari atas. Dari sudut pandangan tersebut, kita bisa melihat salah satu bagian belakang kepala si kecil lebih rata dibanding sisi yang lain, di sisi yang “rata” tulang pipi akan terlihat menonjol, dan kuping pun terkesan lebih maju.


Usia 2 - 4 minggu merupakan usia maksimal perubahan bentuk tengkorak kepala bayi. Pada usia ini, orang tua dapat mencegah perubahan bentuk kepala bayi ini dengan membiasakan hal hal sederhana setiap hari sebagai berikut : 

  1. Orang tua dianjurkan untuk menidurkan bayi dalam posisi telentang secara bergantian antara kanan dan kiri 
  2. Ketika bayi bangun, posisikan bayi dalam keadaan tengkurap selama 30 - 60 menit sehari dengan pengawasan orangtua
  3. Hindari tidur terlalu lama di kursi bayi, kursi pengaman mobil atau dalam boks bayi

Prevention and Management of Positional Skull Deformities in Infants, Pediatrics; 128 : 6, December 2011

30 November 2011

Sukseskan Millennium Development Goals (MDG)





Sukseskan Millennium Development Goals (MDG)


Millennium Development Goals (MDG) merupakan kerangka kerja pembangunan yang telah disepakati seluruh anggota PBB, termasuk Indonesia. Terdapat 8 sasaran MDG, yaitu: (1) Memberantas kemiskinan  dan kelaparan; (2) Mencapai pendidikan tingkat dasar yang merata dan universal; (3) Memajukan kesetaraan gender; (4) Mengurangi tingkat kematian anak; (5) Meningkatkan kesehatan ibu; (6) Menanggulangi HIV/AIDS; Malaria dan penyakit lain; (7) Menjamin kelestarian lingkungan; dan (8)Menjalin kerjasama global bagi perkembangan kesejahteraan.
Posyandu berperan penting dalam pencapaian sasaran MDG, utamanya terkait dengan peningkatan status gizi  anak serta kesehatan ibu dan anak. Dukungan para Bupati/ Walikota sangat diperlukan bagi revitalisasi dan berlangsungnya kegiatan Posyandu. Kegiatan penimbangan Balita di Posyandu sangat penting untuk deteksi dini ada tidaknya masalah gizi pada anak.


Indikator yang paling menentukan pada MDG-1 adalah prevalensi gizi kurang dan gizi buruk. Prevalensi gizi kurang telah menurun secara signifikan, dari 31% (1989) menjadi 17,9 % (2010). Demikian pula prevalensi gizi buruk menurun dari 12,8% (1995) menjadi 4,9% (2010). Kecenderungan ini menunjukkan, target penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk menjadi 15% dan 3,5% pada 2015, diharapkan dapat tercapai.


Menkes memaparkan, untuk mengatasi masalah gizi, diprioritaskan kepada 1.000 hari pertama kehidupan mencakup perbaikan gizi ibu hamil dan anak usia 0 – 24 bulan. Bentuk kegiatan yang dapat dilakukan meliputi Pendidikan ibu tentang makanan bergizi selama hamil; Pemberian ASI dan MP-ASI, serta pemantauan pertumbuhan; Pemberian tablet Fe pada ibu hamil; Pelayanan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di fasilitas kesehatan; Konseling menyusui secara eksklusif; Pemberian TABURIA; Pemberian MP-ASI untuk anak usia 6–24 bulan gizi kurang; Pemantauan pertumbuhan di Posyandu; Supelementasi Vitamin A; Tatalaksana anak gizi buruk termasuk pencegahan dan penanganan kasus anak yang pendek (stunting); dan peningkatan intervensi melalui fortifikasi untuk menanggulangi kekurangan zat gizi mikro.


Dalam koridor MDG-4, Menkes menguraikan, berdasarkan data Hasil Suvei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2007), angka kematian bayi (AKB) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita (AK Balita) adalah 44 per 1000 kelahiran hidup. 


”Angka kematian neonatal menunjukkan tren penurunan yang lambat. Padahal, target yang harus dicapai pada tahun 2015 adalah 23 per 1000 kelahiran hidup untuk AKB dan 32 per 1000 kelahiran hidup untuk AK Balita. Karena itu, keberhasilan imunisasi dan penanganan penyakit infeksi sangat besar kontribusinya”, tambah Menkes.        


Selanjutnya, indikator MDG-5 yaitu angka kematian ibu (AKI), merupakan salah satu indikator yang diperkirakan sulit dicapai. Kesulitan ini tidak hanya dirasakan Indonesia tetapi juga di banyak negara berkembang di dunia. Data terakhir AKI adalah 228 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007). Masih perlu upaya yang lebih keras guna mencapai target MDG pada 2015, yaitu AKI sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. 


“Tingginya AKI dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi dan budaya. Penyebab utama kematian ibu, yaitu perdarahan pasca persalinan, eklamsia dan infeksi. Memperhatikan permasalahan yang dihadapi maka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan merupakan salah satu upaya prioritas dalam penurunan AKI”, tandas Menkes. 


Mengutip data hasil Riskesdas (2010), Menkes menyampaikan, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan secara nasional sudah mencapai 82,7%. Namun, hingga saat ini, baru 8 propinsi yang mencapai angka 90% (sesuai target MDG), yaitu  Provinsi DI Yogyakarta, Bali, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Bangka Belitung, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Aceh.  


“Dalam menurunkan AKI dan AKB serta meningkatkan kepesertaan KB pasca persalinan, dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal) sejak awal tahun 2011. Sasaran Jampersal adalah semua ibu hamil yang tidak mempunyai jaminan persalinan. Jenis pelayanan yang diberikan adalah Antenatal Care  (ANC) sebanyak 4 kali, pertolongan persalinan, dan Post-natal Care (PNC) sebanyak 3 kali”, ujar Menkes. 


Dalam pembahasan tentang MDG-6, Menkes menyatakan, case fatality rate (CFR) penderita AIDS di Indonesia menurun dari 40% (1987) menjadi 2.7% (2011). Ada kecenderungan peningkatan prevalensi HIV, namun prevalensi AIDS tampak stabil. Keadaan ini diduga terjadi karena meningkatnya akses masyarakat terhadap pelayanan HIV-AIDS, sehingga lebih banyak orang yang terdiagnosis sejak dini. Faktor risiko utama penularan AIDS di Indonesia adalah hubungan seks heteroseksual tanpa pelindung (kondom) dan tukar-menukar jarum suntik di antara pengguna narkotik suntik (Penasun). 


“Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit HIV/AIDS difokuskan pada upaya menekan laju angka prevalensi kasus HIV dan peningkatan persentase ODHA yang mendapat Anti Retroviral Treatment (ARV)”, jelas Menkes. 


Pada tahun 2011, dimulai kegiatan Kampanye HIV/AIDS “Aku Bangga, Aku Tahu (ABAT)”. Kampanye ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS pada masyarakat, khususnya kelompok umur 15-24 tahun, sebagai kelompok paling berisiko terinfeksi HIV. Kampanye ABAT dilakukan di 100 kabupaten/kota di 10 provinsi di Indonesia dengan angka prevalensi HIV yang tinggi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Riau, dan Sumatera Utara. Sosialisasi dilakukan pada 10 SLTP, 10 SLTA, 10 Perguruan Tinggi, 10 tempat kerja, dan di kalangan 10 organisasi kepemudaan. Kegiatan dilaksanakan secara lintas sektor oleh Kemenkes, Kemendagri, Kemenaker, Kemdikbud, BNN, KPA dan Pemerintah Daerah setempat. 


Hal lain, Menkes membahas mengenai Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk masyarakat miskin dan tidak mampu. Saat ini, sebanyak 149 juta jiwa (63,13%) dari 236 juta jiwa penduduk telah memiliki jaminan kesehatan dengan berbagai model. Dengan demikian, jumlah masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan sebanyak 87 juta jiwa (36,87%). 


Persentase terbesar peserta jaminan kesehatan adalah Jamkesmas sebanyak 76,4 juta jiwa (32,36%), Jamkesda sebanyak 31,8 juta jiwa (13,50%), peserta Askes PNS, pensiunan, dan veteran sebanyak 17,36 juta jiwa (7,36%); selebihnya peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek dan swasta lainnya. Pada tahun 2014, seluruh jaminan kesehatan sosial akan diselenggarakan oleh BPJS kesehatan, sebagaimana diatur dalam Undang-undang BPJS.


Pada kesempatan tersebut, Menkes mengharapkan dari para Bupati/Walikota dalam mempercepat pencapaian MDG, agar dapat mengalokasikan pembiayaan  yang memadai untuk kesehatan melalui APBD; melakukan pengawalan pelaksanaan Jamkesmas dan Jampersal; menempatlkan pencapaian MDG sebagai prioritas; melakukan fasilitasi  penempatan tenaga strategis kesehatan di wilayah terpencil, tertinggal, perbatasan, dan pulau terluar; dan memberikan perhatian khusus  pada upaya penanggulangan bencana dan kegawat-daruratan.


sumber : depkes RI, depkes.go.id

17 November 2011

Pedoman Penggunaan Antibiotik untuk Anak Anda




Pedoman Penggunaan Antibiotik untuk Anak Anda


Bila Anak Anda diberi resep antibiotik oleh Dokter, berikut beberapa pedoman penting untuk diikuti : 


1. Pastikan penggunaan antibiotik sesuai dengan dosis dan jadwal yang dianjurkan. (misalnya, 1, 2, atau 3 kali sehari). Bila antibiotik dalam bentuk sirup, gunakan pipet / sendok takar yang tersedia di dalam kotak obat.Pastikan jumlah air yang dimasukkan ke dalam botol sirup antibiotik untuk menjadikan tepung obat menjadi larutan memang sesuai dengan yang dianjurkan sesuai kemasan obat, jangan mengikuti GARIS yg ada di label botol obat. Gunakan gelas takar.


2. Jangan hentikan pemberian antibiotik sendiri, meskipun bila anda merasa sudah ada perbaikan klinis pada anak Anda sebelum obat habis. Jika anak Anda berhenti minum obat lebih awal dari seharusnya, beberapa mikroba dapat tetap tinggal di tubuh anak Anda dan terus berkembang biak. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi lain atau mikroba dapat bermutasi ke bentuk baru yang resisten terhadap pengobatan di masa mendatang. Komplikasi penyakit juga dapat berkembang jika infeksi tidak sepenuhnya dihapuskan.


3. Jangan memberikan antibiotik yang diresepkan untuk orang lain atau sisa antibiotik sebelumnya. Jika Anda benar menggunakan antibiotik sesuai petunjuk seharusnya tidak ada sisa antibiotik di rumah. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai indikasi dan aturan dapat meningkatkan resistensi mikroba dan mempersulit pengobatan di masa mendatang


4. Tanyakan kepada dokter Anda apakah anak Anda perlu kontrol kembali setelah antibiotik habis diminum. Kadang kadang, seperti pada kondisi infeksi telinga, dokter mungkin ingin memeriksa kembali telinga anak Anda  untuk memastikan bahwa semua cairan telah hilang.


5. Jika anak Anda belum membaik setelah minum antibiotik sesuai anjuran, segera beritahu dokter anda. Infeksi anak Anda mungkin disebabkan oleh kuman yang sudah resisten terhadap obat yang telah diberikan. Sehingga Dokter Anda dapat memutuskan untuk mengganti dengan antibiotik yang lain



source: healthychildren.org

15 November 2011

Tips : Pencegahan Hepatitis A





Tips : Pencegahan Hepatitis A


Hepatitis A ditularkan melalui faecal-oral. Oleh karenanya, salah satu cara pencegahan adalah proses memasak harus dilakukan dengan baik. Ada 5 tips penting, khususnya bagi  pembuat atau penjual makanan agar makanan yang diproduksi aman dari virus Hepatitis A.


Lima tips tersebut adalah : 
Pertama, menjaga kebersihan dengan cuci tangan sebelum masak dan setelah keluar toilet, cuci alat-alat masak dan alat makan, dapur harus bersih, tidak ada binatang, serangga dll.


Kedua, pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda serta simpan di tempat berbeda.


Ketiga, masak makanan hingga matang. Masak sampai matang, terutama daging, ayam, telur, seafood, rebus sup hingga 70 derajat Celcius. Untuk daging dan ayam, pastikan tidak masih berwarna pink serta panaskan makanan yang sudah matang dengan benar.


Keempat, simpan makanan di suhu aman. Jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum dihidangkan, panaskan sampai lebih dari 60 derajat celcius, serta jangan simpan terlalu lama di lemari es


Kelima, gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan yang segar, air yang bersih, proses memasak yang baik, cuci buah dan sayur dengan baik, serta tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kadaluarsa

sumber : Depkes.go.id

13 November 2011

Deteksi Dini Autisme pada Anak






Deteksi Dini Autisme pada Anak


Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. 
Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.


Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.


Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.


Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.


Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).


Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).


Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1



Deteksi Dini Autisme pada Anak Prasekolah
Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autisme pada anak umur 18 Bulan sampai 36 bulan 


Jadwal deteksi dini autis pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari ibu atau pengasuh atau bila ada keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan berikut ini : 
1. Keterlambatan bicara
2. Gangguan komunikasi / interaksi sosial 
3. Perilaku yang berulang ulang 


Alat yang digunakan adalah CHAT (Checklist for Autism in Toddlers), CHAT ini ada dua jenis pertanyaan yaitu : 
1. Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/ pengasuh anak. Pertanyaan diajukan berurutan. Dijawab dengan jelas dan tanpa ragu ragu 
2. Ada 5 perintah bagi anak untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis di CHAT 


Cara menggunakan CHAT 
1. Ajukan pertanyaan dengan lambat tapi jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada CHAT kepada orang tua/pengasuh anak 
2. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada CHAT
3. Catat jawaban orang tua/ pengasuh anak dan kesimpulah ahsil pengamatan kemampuan anak, YA atau TIDAK. teliti kembali apakah semua pertanyan telah dijawab 


Interpretasi : 
1. Risiko tinggi menderita autis : BIla jawaban TIDAK pada pertanyaan A5, A7, B2, B3 dan B4 
2. Risiko rendah menderita autism  BIla jawaban Tidak pada pertanyaan A7 dan B4 
3. Kemungkinan gangguan perkembangan lain bila jawaban TIDAk jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A11- A4, A6, !8- A9, B1, B5 
4. Anak dalam batas normal bila tidak termasuk kategori 1,2,3


Intervensi : 
Bila anak risiko menderita autis atau kemungkinan adanya gangguan perkembangan, Rujuk ke RS yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/ tumbuh kembang anak 



Sumber  :
http://www.autis.info/
Pedoman pelaksanaan Stimulasi, deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di TIngkat Pelayanan Kesehatan Dasar, Depkes RI, 2006
http://www2.gsu.edu/~psydlr/DianaLRobins/Official_M-CHAT_Website.html

9 November 2011

“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga”




“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga”

“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga”.  PHBS di  Rumah  Tangga  adalah  upaya  untuk  memberdayakan  anggota  rumah  tangga  agar  tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat, yaitu: 
1.  Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan 
2.  Memberi ASI ekslusif 
3.  Menimbang balita setiap bulan 
4.  Menggunakan air bersih 
5.  Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun 
6.  Menggunakan jamban sehat 
7.  Memberantas jentik di rumah sekali seminggu 
8.  Makan buah dan sayur setiap hari 
9.  Melakukan aktivitas fisik setiap hari 
10. Tidak merokok 

8 November 2011

Internet Pembohong??




Internet Pembohong??


Sepertinya yang masih menjawab YA pertanyaan diatas dan dan yang masih ketakutan kalau pasien bawa informasi dari internet atau googling sendiri, mesti baca ulasan Renald Khasali berikut ini ^_^


Ada satu tantangan baru yaitu munculnya Gen C di dunia kedokteran. C berarti Connected, Co-creation, Creative dan Curiousity. Inilah generasi yang terhubung satu dengan yang lain.
Asumsi kita selama ini dokter adalah ahli dan cerdas. Sedangkan pasiennya, secara medis, bodoh. Dokter menunggu di ruang prakteknya dan pasien-pasien itu terisolasi satu dengan lainnya. 
Masalahnya, sekarang asumsi itu sudah tidak valid. Pasien terhubung dan melakukan sharing. Situs-situs lokal mempertemukan pasien-pasien berbagi pengalaman. Di luar negeri situs PatientsLikeMe.com sangat digemari dan pasien bebas berkonsultasi free of charge. Di situs Video Youtube Anda juga bisa menemukan berbagai advice dari dokter-dokter terkenal secara visual. Ada Dr. Vincent Bellonzi yang mengingatkan, agar jangan menyerahkan tubuh kita 100% pada dokter saja. Konsultasikanlah resep pada apoteker. Begitu nasehat dokter senior yang terkenal itu. Nah menjadi masalah kini, asumsi-asumsi lama sudah tidak valid lagi. Pasien jelas telah berubah menjadi lebih berpengetahuan. Mereka bukan menjadi sok tahu, tetapi memang menjadi lebih tahu. Mereka juga curious atau ingin lebih tahu lagi. 


Apa jadinya kalau dokternya masih memegang asumsi lama, tertutup dan malas membaca perkembangan baru, menutup kritik pasien dan hanya mengandalkan informasi dari detailman obat atau konferensi internasional? 


Dokter tentu harus berubah, menjadi lebih tahu dan membagi waktu antara praktek dan belajar lagi. Dan yang lebih penting adalah merubah pendekatan agar lebih komunikatif. Inilah yang saya sebut sebagai daya saing, yaitu lebih produktif dalam menghadapi persaingan. Otherwise, semua pasien kelas atas akan lari ke dokter-dokter asing, sementara pasien miskin semakin terpuruk kesehatannya.


Proudly present : Dokter Anakku website, we're the Gen C ^_^

His Name is Today




His Name is Today

“We are guilty of many errors and many faults, but our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life. Many of the things we need can wait. The child cannot. Right now is the time his bones are being formed, his blood is being made, and his senses are being developed. To him we cannot answer ‘Tomorrow,’ his name is today.” (Gabriela Mistral)

His name is today copy : PDF


Gabriela Mistral 
Gabriela Mistral ( 7 April 1889 – 10 Januari 1957) adalah nama samaran Lucila de María del Perpetuo Socorro Godoy Alcayaga, seorang penyair, diplomat, dan feminis Chili. Ia adalah tokoh pertama dari Amerika Selatan yang menerima Hadiah Nobel Sastra, yang diterimanya pada 1945.Tema utama dalam puisinya adalah cinta, cinta kasih ibu, dan kesedihan serta kesembuhan. Salah satu puisi terkenalnya adalah : His Name is Today





 

comments about Dokter Anakku

chat box


ShoutMix chat widget

Dokter Anakku Copyright © 2009 Flower Garden is Designed by Ipietoon for Tadpole's Notez Flower Image by Dapino